GEREJA YANG RAMAH UNTUK KESEHATAN MENTAL MEMBACA 1 RAJA-RAJA 19:1-8 DENGAN LENSA NEUROSAINS DAN PSIKOANALISIS SIGMUND FREUD

Main Article Content

Alvary Exan Rerung

Abstract

This paper discusses the phenomenon of mental health problems in Indonesia, which continue to increase in number. This reality must certainly make Christianity try to help the government to minimize the increase in this problem. The church must not become one of the perpetrators of the increase in mental health problems because it does not know what to do. That is why, by using a descriptive qualitative method, this paper offers the concept of a church that is friendly to mental health. This effort will be built based on reading the text of 1 Kings 19:1-8 through the lens of neuroscience and Sigmund Freud's psychoanalysis. The results of this study indicate three important things that the church must implement to become a church that is friendly to mental health, namely: first, eliminating the negative stigma on those who experience mental health problems as not having strong faith in God; second, focusing on the phase of mental health disorders experienced by a person so that the church can help in efforts to cancel the intention to commit suicide; and third, it must be able to be a comfortable community so that someone feels owned and has.


Tulisan ini membahas tentang fenomena masalah gangguan kesehatan mental di Indonesia yang jumlahnya terus bertambah. Realitas ini tentu harus membuat kekristenan berupaya membantu pemerintah guna meminimalisir bertambahnya masalah ini. Jangan sampai gereja malah menjadi salah satu pelaku bertambahnya masalah gangguan kesehatan mental akibat tidak tahu apa yang harus dilakukan. Itulah sebabnya, dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, tulisan ini menawarkan konsep gereja yang ramah untuk kesehatan mental. Upaya ini akan dibangun berdasarkan pembacaan terhadap teks 1 Raja-raja 19:1-8 dengan lensa Neurosains dan Psikoanalisis Sigmund Freud. Hasil penelitian ini menunjukkan tiga hal penting yang harus diterapkan gereja guna menjadi gereja yang ramah untuk kesehatan mental, yaitu: Pertama, menghilangkan stigma negatif pada mereka yang mengalami masalah kesehatan mental sebagai tidak memiliki iman yang kuat kepada Tuhan; Kedua, fokus terhadap fase gangguan kesehatan mental yang dialami seseorang agar gereja bisa membantu dalam usaha membatalkan niat untuk melakukan tindakan bunuh diri; dan Ketiga, harus bisa menjadi komunitas yang nyaman agar seseorang merasa dimiliki dan memiliki.

Article Details

How to Cite
Rerung, A. E. (2025). GEREJA YANG RAMAH UNTUK KESEHATAN MENTAL: MEMBACA 1 RAJA-RAJA 19:1-8 DENGAN LENSA NEUROSAINS DAN PSIKOANALISIS SIGMUND FREUD. Masokan Ilmu Sosial Dan Pendidikan, 5(1), 1–20. https://doi.org/10.34307/misp.v5i1.139
Section
Articles

References

Abidin, Zainal. Filsafat Manusia Memahami Manusia Melalui Filsafat. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2014.

Ahmad, Maghfur. “Agama Dan Psikoanalisa Sigmund Freud.” Religia 14, no. 2 (2011): 277–96.

Aisyah, Siti. “Makna Upacara Adat Perkawinan Budaya Melayu Deli Terhadap Kecerdasan Emosional.” Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial Dan Budaya 4, no. 1 (2018). https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/antrophos/article/view/10023.

Anwar, Ilham Choirul. “Info Data Kesehatan Mental Masyarakat Indonesia Tahun 2023.” Tirto.id. Accessed February 21, 2024. https://tirto.id/info-data-kesehatan-mental-masyarakat-indonesia-tahun-2023-gQRT.

Ayuningtyas, Dumilah, Misnaniarti, and Marisa Rayhani. “Analisis Situasi Kesehatan Mental Pada Masyarakat Di Indonesia Dan Strategi Penanggulangannya.” Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat 9, no. 1 (2018): 1–10. https://doi.org/10.26553/jikm.2018.9.1.1-10.

Gagola, Patricia Gebriela, and Yohan Brek. “Pendampingan Pastoral Konseling Pada Pelayan Gereja Dalam Mengatasi Burnout.” Tentiro: Jurnal Pendidikan Dan Kesehatan 1, no. 2 (2024): 55–65. https://doi.org/10.70420/tentiro.v1i2.100.

Hadriami, Brigitta Erlita Tri Anggadewi & Emmanuela. “Observed & Experiential Integration (OEI) Untuk Menurunkan Gejala Stres Pasca Trauma (PTSD) Pada Perempuan Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).” Psikodimensia: Jurnal Kajian Ilmiah Psikologi 13, no. 2 (2014). http://103.243.177.137/index.php/psi/article/view/261/252.

Hariyanto, Ishak. “Etika Psikoanalisis Sigmund Freud Sebagai Landasan Kesalehan Sosial.” Al-Tazkiah: Jurnal Bimbingan Dan Konseling Islam 5, no. 2 (2016). https://journal.uinmataram.ac.id/index.php/altazkiah/article/view/1185.

Huka, Elsami Castigliani. “Suara Dalam Keheningan: Membaca Ulang Kisah Elia Dalam 1 Raja-Raja 19:1-18 Sebagai Dampak Dari Trauma Psikologis.” Jurnal Teologi Dan Pelayanan Kerusso 9, no. 2 (2024): 164–72. https://doi.org/10.33856/kerusso.v9i2.393.

Ikrar, Taruna. Ilmu Neurosains Modern. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015.

Jasafat, Iskandar Ibrahim & Kusnawati Hatta. “Zikrullah as an Emotional Counseling on Amygdala From Science Approach.” Jurnal Al-Bayan: Media Kajian Dan Pengembangan Ilmu Dakwah 26, no. 2 (2020). https://www.jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/bayan/article/view/8301.

Kasingku, Juwinner Dedy, and Jones Ted Lauda Woy. “Dukungan Pendidikan Agama Kristen Dan Gereja Dalam Menjaga Kesehatan Mental Remaja.” Jurnal Educatio 10, no. 3 (2024): 766–74. https://doi.org/10.31949/educatio.v10i3.8626.

Klaten, Soeradji Tirtonegoro. “Mengenal Gangguan Mental.” Kementerian Kesesehatan Republik Indonesia. Accessed February 21, 2024. https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/2697/mengenal-gangguan-mental.

Lawang, Antari Puspita Primananda dan Radjiman Wediodiningrat. “Mental Illness (Gangguan Mental).” Kementerian Kesesehatan Republik Indonesia. Accessed February 21, 2024. https://hellosehat.com/mental/penyakit-mental/.

Lintang, Hana. “Kenapa Gangguan Kesehatan Mental Bisa Meningkatkan Risiko Bunuh Diri?” Zenius Untuk Guru. Accessed February 22, 2024. https://www.zenius.net/blog/gangguan-kesehatan-mental#:~:text=Hubungan antara gangguan kesehatan mental dan bunuh diri,menghindari pikiran atau impuls bunuh diri. Item lainnya.

Maharani, Satia Nur. “Menelusuri Mekanisme Kerja Syaraf Otak Untuk Membuka Kotak Hitam Bias Psikologis Di Pasar Keuangan.” Jurnal Keuangan Dan Perbankan 18, no. 3 (2014). https://jurnal.unmer.ac.id/index.php/jkdp/article/view/822.

Moleong, Lexy J. Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Jakarta: Rosda, 2004.

Mudjihartini, Ninik. “Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) Dan Proses Penuaan: Sebuah Tinjauan.” Jurnal Biomedika Dan Kesehatan 4, no. 3 (2021). https://jbiomedkes.org/index.php.jbk/article/view/168.

Nurjannah, Muhammad Akil Musi &. Neurosains Menjiwai Sistem Saraf Dan Otak. Jakarta: Kencana, 2021.

Panuntun, Daniel Fajar, Silvia Sirupa, and Jermia Limbongan. “Model Pastoral Konseling Persahabatan Bagi Anak Sebagai Bagian Pelayanan Gereja.” Sophia: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 2, no. 1 (2021): 28–43. https://doi.org/10.34307/sophia.v2i1.18.

Putra, Yovan P. Rahasia Di Balik Hipnosis Ericksonian Dan Metode Pengembangan Pemikiran Lainnya. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2010.

Rahman, Agus Abdul. Sejarah Psikologi Dari Klasik Hingga Modern. Depok: Rajawali Pers, 2018.

Rahman, Fauzi. “Psikologi Tokoh Dalam Novel Pulang Karya Leila S. Chudori (Kajian Psikoanalisis Sigmund Freud).” Imajeri: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia 3, no. 2 (2021): 176–94. https://doi.org/10.22236/imajeri.v3i2.6718.

Rerung, Alvary Exan. Beriman Secara Otentik: Menyatakan Kasih Allah Dalam Peziarahan Sehari-Hari. Bandung: Widina Media Utama, 2023.

———. “Bunuh Diri Bukan Kehendak Bebas Perspektif Neurosains Dan Psikoanalisis Sigmund Freud.” Danum Pambelum: Jurnal Teologi Dan Musik Gereja 2, no. 1 (2022): 45–59. https://doi.org/10.54170/dp.v2i1.76.

Rerung, Alvary Exan, Rosinta Sakke Sewanglangi’, and Sandi Alang Patanduk. “Membangun Self-Love Pada Anak Usia Remaja Menggunakan Teori Filsafat Stoikisme Marcus Aurelius.” Masokan : Jurnal Ilmu Sosial Dan Pendidikan 2, no. 2 (2022): 105–15. https://doi.org/10.34307/misp.v2i2.55.

Sanderan, Rannu, and Yohanes Krismantyo Susanta. “Pemahaman Tentang Sayap Dalam Kitab Rut: Studi Kritik Naratif.” Kamasean: Jurnal Teologi Kristen 2, no. 1 (2021): 47–58. https://doi.org/10.34307/kamasean.v2i1.33.

Semiun, Yustinus. Teori Kepribadian & Terapi Psikoanalitik Sigmund Freud. Yogyakarta: Kanisius, 2006.

Sihotang, Kasdin. Filsafat Manusia: Upaya Membangkitkan Humanisme. Yogyakarta: Kanisius, 2009.

Singgih, Emanuel Gerrit. Dunia Yang Bermakna: Kumpulan Karangan Tafsir Perjanjian Lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2019.

Siswanto. “Alkitab Dan Kesehatan Mental.” In Meretas Diri, Merengkuh Liyan, Berbagi Kehidupan: Bunga Rampai Penghargaan Untuk Pdt. Aristarchus Sukarto, edited by Paulus S. Widjaja and Wahju S. Wibowo. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2020.

Sunga, Seli Antonia Tagu, Masto Fay, and Lifel Asael Wulang. “Peran Gereja Lewat Konseling Pastoral Terhadap Kesehatan Mental.” Vox Divina 2, no. 2 (2024): 12–24. http://jurnal.sttekumene-medan.ac.id/index.php/voxdivina/article/view/5.

Susanta, Yohanes Krismantyo. “The Church as a Field Hospital: Toward a Theology of Mental Health.” Practical Theology, 2025, 1–13. https://doi.org/10.1080/1756073X.2025.2475612.

Too, Lay San, Matthew J. Spittala, Lyndal Bugejab, Lennart Reifelsa, Peter Butterwortha, and Jane Pirkis. “The Association between Mental Disorders and Suicide: A Systematic Review and Meta-Analysis of Record Linkage Studies.” Journal of Affective Disord 259 (2019): 302–13. https://doi.org/10.1016/j.jad.2019.08.054.

Zaenuri, Ahmad. “Estetika Ketidaksadaran: Konsep Seni Menurut Psikoanalisis Sigmund Freud (1856-1939) (Aesthetics of Unconsciousness: Art Concept According Sigmund Freud Psychoanalysis).” Harmonia: Journal of Arts Research and Education 23, no. 2 (2005): 1–15. https://doi.org/10.15294/harmonia.v6i3.811.

Zein, Ilham Akhsanu Ridho dan Rizqy Amelia. “Arah Kebijakan Kesehatan Mental: Tren Global Dan Nasional Serta Tantangan Aktual.” Buletin Penelitian Kesehatan 46, no. 1 (2018): 45–52. https://doi.org/10.22435/BPK.V46I1.56.